30 Agustus 2026 - 00:06
Bagian II: Melayani Kaum Kurang Mampu dan Mendirikan Lembaga Amal

Pelayanan kepada masyarakat kurang mampu disebut sebagai salah satu ciri penting dalam perjalanan keilmuan dan kiprah eksekutif Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei. Sikap tersebut digambarkan bukan sekadar perilaku pribadi, melainkan telah menjadi tradisi dalam keluarganya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pada bagian pertama tulisan ini telah disampaikan gambaran singkat mengenai perjalanan keilmuan dan aktivitas sosial Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei. Bagian kedua ini mengulas sebagian upayanya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat kurang mampu.

Pelayanan terhadap kaum miskin disebut bukan hanya menjadi karakter pribadinya, tetapi juga merupakan kebiasaan yang telah lama hidup dalam lingkungan keluarganya. Ketika berusia sembilan tahun, pada September 1978, ia menyaksikan ayahnya, mendiang Allamah Ayatullah Syahid Khamenei, terlibat dalam membantu para korban gempa Tabas.

Bertahun-tahun kemudian, ia juga kerap mendampingi ibunya dengan tanpa dikenali mendatangi rumah-rumah keluarga miskin. Ia menyaksikan langsung ibunya menjahit berbagai kebutuhan untuk membantu menyiapkan perlengkapan pernikahan bagi perempuan muda dari keluarga kurang mampu. Para penerima bantuan disebut tidak mengetahui bahwa barang-barang tersebut dibuat sendiri oleh istri Pemimpin Revolusi Islam Iran kala itu. Bahkan, menurut laporan ini, contoh hasil jahitan yang sama juga digunakan sebagai bagian dari perlengkapan pernikahan putri-putri keluarga pemimpin tertinggi Iran.

Sayyid Mojtaba Khamenei disebut berkali-kali menyaksikan ibunya sangat terpukul melihat kondisi kehidupan kaum miskin. Dalam satu kesempatan, ia pernah mengatakan kepada para muridnya: “Ibu kami terkadang setelah pulang dari rumah keluarga miskin begitu terguncang secara emosional sampai tidak lagi mampu makan.”

Istrinya, mendiang Zahra Haddad-Adel, juga disebut aktif memberikan berbagai pelayanan kepada masyarakat kurang mampu di sejumlah kawasan Teheran, termasuk Harandi.

Ia mengadakan berbagai kegiatan di Masjid Imam Sajjad as tanpa banyak orang mengetahui bahwa “Ny. Hosseini” sebenarnya adalah istri Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei sekaligus menantu Pemimpin Iran.

Pernah Merasakan Hidup dalam Utang

Menurut laporan ini, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei juga pernah merasakan langsung pahitnya kondisi kemiskinan, utang, dan pinjaman. Pada dekade 1990-an, seorang pemilik toko kelontong di dekat Hauzah al-Mahdi yang dikenal sebagai Agha Rahman disebut beberapa kali mencatat nama Sayyid Mojtaba dan saudaranya dalam buku utang toko kecilnya. Utang tersebut baru dilunasi beberapa hari kemudian setelah mereka menerima tunjangan bulanan sebagai pelajar agama.

Pengalaman semacam itu disebut membuat pelayanan kepada kaum miskin menjadi salah satu prioritas dalam aktivitas sosial Sayyid Mojtaba Khamenei sekaligus pesan yang berulang kali ia sampaikan kepada para murid.

Salah seorang muridnya mengatakan: “Hal sosial yang paling menonjol dalam perhatian beliau adalah kegiatan seperti pengabdian sosial berjamaah dan pemberian bantuan saat terjadi bencana alam, seperti banjir. Beliau selalu menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan.”

Mendirikan Lembaga Bantuan tanpa Mencantumkan Namanya

Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei disebut mendirikan sejumlah lembaga untuk melayani masyarakat kurang mampu dan melalui lembaga tersebut memberikan bantuan rutin kepada puluhan ribu orang, tanpa mencantumkan namanya sendiri. Beberapa prinsip yang disebut diterapkan dalam lembaga-lembaga tersebut antara lain menjaga martabat penerima bantuan, mengirim petugas lapangan untuk meneliti kondisi keluarga yang membutuhkan, serta mengutus petugas perempuan ketika kepala keluarga penerima bantuan adalah seorang perempuan. Ia juga disebut menekankan agar pelayanan dilakukan secara berkelanjutan dan namanya tidak disebut sebagai pihak yang berada di balik program-program tersebut. Sebaliknya, berbagai bantuan itu dinisbatkan kepada Kantor Pemimpin Revolusi Islam.

Banyak masyarakat kurang mampu di berbagai wilayah Qom seperti Jafariyah, Kahak, Qamarud, Qanawat, Niroogah, dan Khakfaraj mengira bantuan yang mereka terima berasal dari dermawan anonim atau dari Kantor Pemimpin Revolusi. Hal serupa juga terjadi pada sejumlah pusat kesehatan.

Para pengelola fasilitas medis seperti Klinik Qur’an dan Itrah disebut tidak mengetahui bahwa pembiayaan pelayanan bagi masyarakat kurang mampu, mulai dari suntikan, infus hingga perawatan gigi, diperoleh melalui upaya Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei dan bersumber dari dana masyarakat.

Hauzah Dilibatkan dalam Pelayanan Sosial

Dalam sejumlah kesempatan, kegiatan belajar disebut pernah dihentikan agar para pelajar agama dapat dikirim untuk membantu korban banjir di Khuzestan. Pada masa pandemi Covid-19, hauzah-hauzah yang berada di bawah pengelolaannya juga disebut dialihfungsikan sementara sebagai pusat penyediaan jus bagi pasien Covid. Ia juga mendorong para santri dan pelajar agama untuk terlibat dalam proses pemakaman dan pemandian jenazah korban Covid-19.

Para muridnya mengatakan mereka berulang kali mendengar sang guru berkata: “Semakin lemah dan semakin tidak memiliki siapa-siapa seseorang, semakin penting untuk dibantu.” Setelah menerima laporan mengenai pelayanan para muridnya kepada korban banjir di Khuzestan, ia disebut mengatakan: “Pekerjaan seperti inilah identitas seorang pelajar agama. Bahkan, melayani masyarakat dapat membuka pintu-pintu ilmu bagi para santri.”

Ia juga disebut mengaitkan sebagian keberhasilan ayahnya dengan pelayanan kepada masyarakat kurang mampu dan menyampaikan pandangan tersebut secara langsung di hadapan para pelajar agama.

“Jangan Anggap Remeh Pelayanan kepada Kaum Miskin”

Anjuran untuk memperhatikan masyarakat kurang mampu tidak hanya disampaikan dalam lingkungan hauzah, tetapi juga dalam berbagai rapat administratif dan kegiatan di luar lingkungan pendidikan agama.

Dalam satu kesempatan, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei disebut pernah mengatakan kepada salah seorang rekannya yang bekerja di bidang pengelolaan talenta dan teknologi: “Jangan anggap remeh perhatian kepada orang-orang miskin. Mereka dicintai Allah. Pekerjaan-pekerjaan lain tetap penting dan harus berjalan, tetapi yang ini juga jangan dilupakan.”

Bagian-bagian berikutnya dari tulisan ini akan membahas sisi lain dari perjalanan sosial dan kiprah eksekutif Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei.

Sumber

  • Wawancara dengan Fariduddin Haddad-Adel, saudara dari istri Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei.

  • Pernyataan Dr. Haddad-Adel di Masjid Imam Hasan Mujtaba as, kawasan Harandi.

  • Pernyataan Eskandar Huseynov, mubalig asal Azerbaijan dan Direktur Noor Foundation Azerbaijan.

  • Wawancara dengan Hujjatul Islam Reza Aliabadi, salah seorang murid Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei.

  • Wawancara dengan Hujjatul Islam Mohammad Javad Akbari, salah seorang murid Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha